Jen menatap datar sepasang mata yang juga menatapnya dari seberang meja, hanya saja mata itu berbinar, penuh keceriaan. Mata yang menyembunyikan banyak emosi di saat bersamaan. Berbeda dengan milik Jen yang hanya memancarkan satu emosi saat ini. Bosan. “Jadi?” Jen memecah keheningan yang memekakkan diantara mereka, tak tahan hanya diam dan melihat cengiran tak bersalah lawan bicaranya itu. Disisi lain meja, seorang pemuda tampan mengedikkan bahunya sekilas, membuat Jen mengangkat alisnya dengan pertanyaan tertahan, ‘Kau bercanda?’ “Aku tidak dalam posisi untuk memutuskan, Jen. Kau juga tahu itu.” Ucap pemuda itu pada akhirnya, jemarinya bermain diatas linen merah meja mereka. “Begitu juga aku. Kau lebih dari tahu bagaimana kondisiku saat ini, Jo.” Jen mencoba mengatur nada nya agar tetap terlihat tenang. Jo mendesah pelan. Ia tahu tak akan mudah membujuk Jen dalam kondisi seperti ini. Ia sudah kehabisan akal bagaimana lagi ia harus membuat Jen sepakat. “Tak ada ya...
All About Writing