Skip to main content

UNCOMMITTED

It was all a dream 
Reality was far from the safe picture 
She painted for me 
She told me I was the one and I believed 
Until the dream dissipated so suddenly

Ketika sesuatu yang seharusnya mudah, menjadi sulit hanya karena ego yang berlebih. San tak pernah berpikir bahwa semua kebahagian yang ia perjuangkan bertahun-tahun akan berakhir menyedihkan. Ia pikir, dengan memberikan segala yang ia miliki, akan cukup untuk membuat cinta bertahan dengannya. Kenyataannya, Mareta pergi. Membawa serta separuh jiwanya. Hatinya. San tak pernah dapat memahami apa yang salah dengan hubungan mereka. Bukankah selama ini mereka baik-baik saja? Bukankah semuanya berjalan dengan lancar? Bukankah mereka berjanji untuk saling memiliki? Bahkan, gadis itu pernah menatapnya mantap dan berkata bahwa dialah satu-satunya. Lantas apa? Apa yang membuat San kehilangan satu-satunya cinta dalam hidupnya?

I don't know why she was so compelled to leave 
Something was messin' with her psychology 
I'm confused, she's sayin' something's wrong with me 
But how can I fix something I cannot see 

 San tak pernah mengerti dan tak akan bisa mengerti mengapa Mareta begitu keukeuh meninggalkannya. Tidak, bahkan San tak tahu kapan persisnya ia pergi. Yang ia tahu, saat ia pulang ke flat yang ia tinggali bersama Mareta hamper setahun ini, ia menemukan tempat itu kosong. Hening. Seolah kehilangan nyawa yang sekian lama bersarang memenuhinya. Tak ada yang tersisa sedikitpun. San seolah dihempaskan dari dunia angan yang terlalu manis dimana ia hidup selama ini. Pahit. Seakan semua yang ia lakukan selama ini tak ada artinya. Hanya secarik kertas disamping nakas yang mewakili segalanya. You’re wrong. I’m wrong. We’re wrong. Hanya enam kata, dan semuanya sirna. Meninggalkan San dengan satu pertanyaan yang membayang dalam benaknya. Apa yang salah dengannya? Apa yang salah dengan mereka? Bukankah mereka baik-baik saja selama ini? Tak ada yang salah! Apakah mungkin…cinta mereka yang salah?

She said, you're not ready 
Baby, you're not ready for the real thing 
She told me that I'd be unfaithful and I cannot believe 

 Tapi bukankah cinta tak pernah salah? San sangat yakin bahwa mereka saling mencintai. Atau…apakah itu hanya anggapannya belaka? Tidak! Ia yakin Mareta membalas hatinya. Jika tidak, tak mungkin Mareta menginginkannya. Tak mungkin Mareta mengajaknya berkomitmen sejauh ini. Apa mungkin… apa mungkin karena komitmen itu Mareta pergi? Tapi bukankah ia telah mengabulkan keinginan gadisnya? Bukankah ia selalu menuruti maunya? Bagaimana bisa gadisnya pergi meninggalkannya begitu saja? Apa yang salah? Apa yang membuatnya begitu ingin pergi darinya?

She said she could never trust a player like me 
But baby that was part of my history 
She's telling me breaking hearts is a part of me 
It's like it's in my system and it would never leave 

 Lalu sesuatu menghantam hati dan pikirannya seketika itu juga. Ya, Mareta benar. Dari awal, ia tahu Mareta selalu benar. Gadisnya sudah berkali-kali memperingatkannya, tapi tak pernah sekalipun ia menghiraukannya. Dipikirnya, memilikinya sudah cukup menjadi jaminan. Tapi ternyata tidak. Memilikinya saja tidaklah cukup. Tak akan pernah cukup tanpa ia menunjukkan betapa berharganya gadis itu baginya. Salahnya. Semua ini sepenuhnya tanggungjawabnya. Gadisnya tak bersalah. Bodohnya, ia selalu saja sadar ketika semua sudah terlambat. Berakhir.


Inspired by:
Xia Junsu - Uncommitted

Comments

Popular posts from this blog

Youth is not coming back

Life is a funny thing, you know? You rise, you fall. One time you can be so happy over small thing, then other time you can be so desperately sad about something else. One time you can be so high, other time you can be so damn low. You face many things in life. Failure is no exception. You try, you fail. You succeed, yet you don’t know how long will it last. At least, you’ve done your best. You give it all. Who knows what will happen in the future? You might think you’ve done your best, but sometime it isn’t enough. Sometimes, what we think the best for us is not actually the best. God knows better. We plan, we fail. We plan, God decides. Trust God, and you’ll get everything you need. I know sometimes what we want is not actually what we need. And who knows better about us if not the one who create us? We might hate something, but actually it is good for us. Or else, we might like something, but actually it’s bad for us.  We never know. Sometimes, our choice can be a boomera...

A Warm Autumn Breeze

i make another short story guys...^^ a lil bit longer from the previous one, btw...:D -------------------------------------------------- It was autumn. When the leaves fall and the sun warm. Not as cold as winter nor as hot as summer, just warm. Yet, not as beautiful as spring. It was autumn. The season when this story begin. Ana is sitting in the bench, in the park she used to come every time she needs a time for herself. A red headphone perched in her head as she looked at the crowded of children in front of her. She smiled at those beautiful scenery. Some old memories running out in her head. She takes a deep sigh before close her eyes, enjoying the song played in her ipod. Again, those old memories come, this time more clearly and seems so real. She was there. Running around with the other child in her age. She was smiling. A wide smile that never faded from her cute face. Behind her, is a cute guy seems around 8 years old, just one year older than her. He can’t  st...