Jen menatap datar
sepasang mata yang juga menatapnya dari seberang meja, hanya saja mata itu
berbinar, penuh keceriaan. Mata yang menyembunyikan banyak emosi di saat
bersamaan. Berbeda dengan milik Jen yang hanya memancarkan satu emosi saat ini.
Bosan.
“Jadi?” Jen memecah
keheningan yang memekakkan diantara mereka, tak tahan hanya diam dan melihat
cengiran tak bersalah lawan bicaranya itu.
Disisi lain meja,
seorang pemuda tampan mengedikkan bahunya sekilas, membuat Jen mengangkat
alisnya dengan pertanyaan tertahan, ‘Kau bercanda?’
“Aku tidak dalam posisi
untuk memutuskan, Jen. Kau juga tahu itu.” Ucap pemuda itu pada akhirnya,
jemarinya bermain diatas linen merah meja mereka.
“Begitu juga aku. Kau
lebih dari tahu bagaimana kondisiku saat ini, Jo.” Jen mencoba mengatur nada
nya agar tetap terlihat tenang.
Jo mendesah pelan. Ia
tahu tak akan mudah membujuk Jen dalam kondisi seperti ini. Ia sudah kehabisan
akal bagaimana lagi ia harus membuat Jen sepakat.
“Tak ada yang bisa kita
lakukan lagi, Jen. Semua sudah diatur oleh orangtua kita. Sebentar lagi
undangan akan disebar. Mau tak mau, kita harus sepakat dalam hal ini.” Senyuman
Jo kali ini berbeda dengan yang ia lemparkan sebelumnya. Sudut bibirnya hanya
terangkat sedikit, dan ia tampak bersalah.
Jen frustasi. “Tapi aku
tak bisa, Jo! God! Aku bahkan baru mengenalmu kurang dari satu bulan!”
gadis itu tak lagi bisa mengontrol nada bicaranya. Beruntung mereka duduk agak
jauh dari pengunjung lainnya.
“Kita sudah saling
mengenal selama bertahun-tahun, Jen.” Koreksi Jo, terdengar getir dalam
suaranya.
“Dan tak ada SATU pun
kenangan bertahun-tahun itu yang bisa aku ingat saat ini. Yang aku tahu saat
ini adalah bahwa kita tak lebih dari orang asing yang baru mengenal kurag dari
satu bulan, dan jelas sekali aku tak mau menikah dengan orang yang bahkan nama
lengkapnya pun aku tak tahu!” wajah Jen memerah setelah ia meluapkan segalanya.
Jo merasa seolah ada
batu besar yang menghantam perutnya ketida mendengar ungkapan hati Jen. Ia
sebenarnya sudah bisa menebaknya dari awal, tapi rasanya tetap saja menyakitkan
ketika kenyataan dilontarkan dengan brutal tepat diwajahnya.
“Kau hanya butuh waktu,
Jen. Pada waktunya nanti, kau pasti akan mengingat semuanya kembali.” Ucap Jo
pelan, kini matanya menatap Jen sendu.
“Aku ingat semuanya, Jo.
Aku ingat orangtuaku, aku ingan Sam, Mel, Rin, semuanya aku ingat! Dan haruskah
kuingatkan kau sekali lagi Jo, kalau setelah kejadian itu hanya satu yang tak
kuingat. aku—“
“Hentikan, Jen.” Potong
Jo sebelum Jen bisa menyelesaikan kalimatnya. “Aku tahu.” Jo kembali memaksakan
sebuah senyuman yang membuat Jen kini merasa sangat bersalah.
“Maaf.” Jen mencoba
meraih tangan Jo yang masih berada diatas meja, tapi sebelum ia sempat
menyentuhnya, pemuda itu sudah berdiri terlebih dahulu.
“Sebaiknya kita pulang
sekarang. Sudah semakin larut, aku tak mau orangtuamu khawatir.” Jo memasukkan
tangannya kedalam saku jaketnya dan tersenyum pada Jen, mengajaknya segera
keluar dari kafe tempat mereka menghabiskan makan malam yang canggung itu.
Jen mengangguk sebelum
mengikuti Jo berjalan menuju pintu keluar.
><><><><><><><><><><><><><><><><><
Entah sudah berapa lama
Jen memandangi layar ponselnya sekarang, matanya terfokus hanya pada satu objek
ditangannya itu. Berkali-kali pula ia mendesah, mengutuk dalam hati apa yang
salah dengan dirinya? Jen berada dikamarnya saat ini, merebahkan tubuh lelahnya
diatas ranjang queen size miliknya. Sepulang dari makan malam bersama
Jo, Jen langsung mengunci diri didalam kamar. Sebagian karena ia ingin
menghindari ibunya yang selalu bertanya banyak hal tiap kali ia selesai bertemu
dengan Jo, dan sebagian lagi karena ia benar-benar ingin sendiri saat ini.
Jen masih menatap layar
ponselnya yang memperlihatkan foto mesranya dengan Jo. Sekali lagi, foto mesra
nya dengan Jo! Ya, benar! Jen sama sekali tak paham, bagaimana bisa mereka
yang ada di foto itu sama sekali berbeda dengan mereka yang sekarang. Mereka
berdua tampak bahagia di foto itu, dengan satu tangan Jen melingkar mesra
dileher Jo dan tangan Jo yang memeluk pinggang ramping Jen dengan posesif.
Senyum lebar terpatri di wajah dua sejoli itu.
Bagaimana bisa itu
mereka? Jen dan…Jo? That Jo? Kenapa rasanya ada sesuatu yang tak cocok
disini? Kenapa Jen merasa Jo bukanlah Jo?
Jen kembali berguling
kesamping, entah sudah berapa kali ia berganti posisi dalam baringnya. Ada
sesuatu yang berbeda yang ia rasakan ketika ia melihat foto di ponselnya itu
dengan ketika ia bertatap muka dengan Jo yang sesungguhnya. Hatinya menghangat
pada gambar tak bergerak itu, tapi sebaliknya, entah kenapa ia merasakan ada
emosi tersembunyi tiap kali ia bertemu nyata dengan Jo.
Ada banyak hal yang
mengganggu pikiran Jen sejak ia sadar dari komanya satu bulan yang lalu. Ada
kejanggalan yang ia rasakan sejak saat itu juga. Sikap orangtuanya yang kelewat
protektif padanya, juga orangtua Jo yang sepertinya menyembunyikan sesuatu
darinya. Tak ada yang lebih membuat Jen terkejut kala itu selain mendapati
kenyataan bahwa ia mempunyai seorang tunangan yang sama sekali tak diingatnya,
dan lebih mengejutkan lagi bahwa tak lama lagi mereka akan menikah!
Tentu saja Jen berontak
waktu itu. Bagaimana mungkin ia akan menikah dengan orang yang namanya pun
terdengar asing di telinganya! Namun kemudian dokter datang dan menjelaskan
bahwa Jen mengalami gegar otak parsial yang mengakibatkannya kehilangan
sebagian ingatan. Dan anehnya, ingatan yang dimaksud oleh dokter itu entah
bagaimana berhubungan dengan Jo dan semua hal yang tersisa tentang hubungan mereka
selama ini. Jo mengklaim bahwa mereka sudah bersama sejak dua tahun yang lalu,
walaupun mereka sebenarnya sudah bersahabat sejak kecil, dan pernyataan Jo itu
mendapat dukungan dari semua pihak yang ada disekitar Jen.
Menguap lebar, Jen
akhirnya menyerah menebak-nebak apa yang membuat Jo di foto ini berbeda dengan
Jo yang dikenalnya. Jen mematikan ponselnya dan segera bersiap menuju ke alam
mimpi.
><><><><><><><><><><><><
Jo mengecek arlojinya
untuk kedua kalinya selama ia duduk di ruang tamu Jen, memastikan bahwa mereka
masih punya cukup waktu untuk berkeliling toko perhiasan sebelum kembali lagi
kesini untuk makan malam keluarga. Sedikit menggerutu, Jo menyandarkan
punggungnya pada bantalan sofa yang ia tempati. 30 menit! Jo kadang tak habis
pikir apa sebenarnya yang membuat kaum wanita selalu menghabiskan 4 kali lipat
dari waktu yang ia perlukan untuk sekadar berdandan.
Bosan, Jo mengeluarkan
ponsel dari dalam sakunya berniat untuk bermain game sebentar, tapi gerakannya
terhenti setelah ia membuka kunci ponsel miliknya. Di layar, terpampang foto
yang sama dengan yang ada di ponsel Jen. Foto dirinya dan Jen. Lautan
rasa bersalah kembali menggerogoti diri Jo. Mereka berarti segalanya
bagi Jo.
“Maaf.” Ucapnya lirih
sambil mengusap gambar tak bergerak itu.
Terlalu larut dalam
renungannya, Jo tak menyadari bahwa Jen sudah berdiri dihadapannya dan tengah
mengernyit heran karena ia tak menyahut panggilannya.
“Jo!” Jen sedikit
mengeraskan suaranya, dan berhasil membawa kembali Jo dari entah apa yang
sedang dilamunkannya.
“Hei. Maaf ngelamun.” Jo
tergesa menutup kembali ponselnya dan menyimpannya ditempat semula, saku
celananya.
Jen mengedik acuh, “Ayo
kita berangkat.” Gadis itu mendahului Jo menuju mobil Jo yang diparkir diluar
rumahnya.
Seperti biasa,
perjalanan mereka didominasi dengan Jo yang berceloteh panjang lebar tentang
masa-masa mereka dulu. Tempat mana saja yang sering mereka kunjungi, apa saja
yang sering mereka lakukan, semua yang sama sekali tak bisa diingat oleh Jen.
“Lalu setelah itu kau
pasti akan merengek padaku meminta dibelikan apa saja yang sama dengan yang ada
di setiap film yang kita tonton bersama.”
“Benarkah? Separah itu?”
Jen menaikkan alisnya skeptis. Aneh rasanya mendengar sisi dirinya yang ia
lupakan sendiri,
“Kau pikir aku hanya
mengarang cerita? Setelah ini, pastikan kau periksa kembali isi lemarimu dan
buka peti harta karunmu. Kau menyimpan semuanya disana.” Jo menyeringai,
membuat Jen kembali menggerutu sebal.
Perjalanan pun kembali
diisi dengan celoteh riang Jo dan gerutuan sebal Jen disana-sini sampai mereka
tiba di tempat tujuan.
“Kita kan sudah punya
cincin, untuk apa sih kita harus beli lagi?” kembali Jen menggerutu sambil
melepas seatbelt nya.
“Cincin tunangan beda
dengan cincin kawin, Jen. Kau kan wanita, bukankah harusnya kau yang lebih
antusias masalah ini?” ledek Jo sebelum keluar dari mobil.
“Bagiku mereka sama
saja. Toh sama-sama cincin namanya.” Balas Jen ketika mereka berjalan
beriringan memasuki pusat perbelanjaan yang ramai.
Entah kenapa Jo tidak
merasa terkejut dengan ucapan Jen, sebaliknya, ia merasa bahwa Jennya sudah
kembali. Tersenyum lebar, Jo meraih satu tangan Jen dan menggandengnya tanpa
menghiraukan ekspresi muka Jen yang jelas-jelas merasa keberatan.
><><><><><><><><><><><><><
Mereka kembali tepat
waktu untuk makan malam. Orangtua masing-masing sudah berkumpul di ruang
keluarga, dan setelah menunggu Jen meletakkan semua belanjaannya di kamar,
mereka pun berpindah ke ruang makan untuk memulai makan malam yang sebenarnya
adalah ajang orangtua untuk membicarakan rencana pernikahan anak-anak mereka.
Jen lebih banyak diam
sepanjang makan malam, membuka suara hanya ketika ditanya dan menyahut obrolan
seperlunya. Jo yang lebih banyak bersuara, bercerita tentang perkembangan
hubungan mereka sesuai permintaan para orangtua, dan sesekali menimpali
percakapan seputar pernikahan.
Jo melirik kearah Jen
setiap kali ada kesempatan, dan tahu kalau Jen merasa sangat tak nyaman saat
ini. Semua makanan sudah dihidangkan, tetapi obrolan nampaknya tak akan
berhenti hanya karena mereka sudah selesai makan. Merasa harus menghentikan
para orangtua sebelum Jen semakin tak nyaman, Jo berdeham cukup keras untuk
didengar semua penghuni meja makan itu.
“Maaf, om dan tante,
saya rasa kurang sopan sekali jika kami masih duduk disini setelah menikmati
makan malam yang luar biasa ini. Terlebih, tampaknya Jen juga sudah kelelahan
seharian bersama saya berkeliling mencari cincin pernikahan kami. Jadi,
alangkah baiknya jika saya mohon pamit agar Jen bisa beristirahat. Bukan
begitu, Ma, Pa?” ucap Jo sesopan mungkin.
“Oh, astaga! Kau benar,
saying. Aduh, selalu saja lupa waktu kalau sudah membicarakan pernikahan
kalian.” Ibu Jo membenarkan.
Setelah keluarga Jo
berpamitan pulang, Jen berkata pada orangtuanya bahwa ia sangat lelah dan ingin
segera pergi tidur. Orangtuanya mengucapkan selamat malam padanya dan Jen
segera kembali ke kamarnya.
Jen melenguh pelan
ketika tubuhnya bertemu dengan permukaan lembut ranjangnya. Ia bahkan tak
menyadari betapa lelahnya ia hari ini sampai tubuhnya bersentuhan dengan
ranjang. Jen sudah akan menyelam ke lautan mimpi ketika sesuatu tiba-tiba
menyeruak dari dalam kepalanya. Ia teringat ucapan Jo di mobil tadi, dan ia memaksa
tubuh lelahnya untuk berdiri dan menyeretnya menuju lemari miliknya.
Menggeser pintu
lemarinya cukup lebar, Jen seketika dapat mengenali kotak besar yang tergeletak
di dasar lemari. Jen mengangkat kotak itu –yang ternyata cukup berat—dan
membawanya keatas ranjang. Dibukanya penutup kotak merah itu, dan seketika
senyum mengembang dibibir manisnya.
Jen mengeluarkan
sebatang tongkat yang ia kenali pasti adalah tongkat sihir dari film Harry
Potter, lalu ada replika sepatu kaca Cinderella, juga boneka Spiderman dan
beberapa figurine superhero Marvell, dan banyak benda-benda lain yang
Jen sangat hapal berasal dari film apa saja. Tanpa sadar Jen terkekeh kecil.
“Jadi Jo berkata jujur?”
celetuknya geli. Bukannya Jen menganggap Jo berbohong padanya, hanya saja Jen
belum bisa sepenuhnya percaya pada Jo. Ada sesuatu dalam diri Jo yang membuat
Jen merasa bahwa pemuda itu menyembunyikan banyak hal dari dirinya.
Jen kemudian meraih
sebuah kotak kecil yang ada didasar kotak, dan saat ia membukanya ia tak bisa
menahan tawanya.
“Yang benar saja! Tiket
bioskop!” Jen tak pernah menyangka bahwa dia punya kebiasaan seperti ini dulu.
Ia meraih tiket yang berada paling atas, dan seketika mengernyit heran ketika
mendapati bahwa ada 3 tiket untuk satu film yang sama.
Kenapa ada 3? Tanyanya dalam hati.
Penasaran, ia mengambil isi box satu persatu dan menyadari bahwa selalu ada 3
tiket untuk setiap film yang sama. Keheranan, Jen hampir melewatkan benda lain
di dalam kotak penuh tiket bioskop itu. Selembar foto.
Jen mengambil foto itu
perlahan dan matanya membulat seketika ketika menyadari siapa yang ada dalam
foto tersebut. Seorang gadis, memakai seragam putih-abu-abu, dengan kedua
tangan merangkul dua laki-laki yang mengapitnya. Ketiganya tertawa lebar kearah
kamera. Gadis itu, tak lain adalah Jen semasa SMA. Dan laki-laki yang ada dalam
foto bersamanya, dua-duanya, adalah Jo.
Jo! Dua Jo,
berdiri dikanan-kiri Jen. Dengan tawa yang sama, wajah yang sama, Jo yang sama!
“Bagaimana—bagaimana
bisa?” bisik Jen lemas dengan mata yang masih terfokus pada potret ditangannya.
Gemetar, ia membalikkan lembaran foto itu dan menemukan sebuah tulisan kecil di
sebelah kanan bawah. Triple J, together, forever.
Masih dengan tangan
gemetar, Jen kembali membalikkan foto tersebut, tiga wajah remaja kembali
menatap balik padanya.
“J—Jo…?” Jen kembali
memperhatikan foto itu dengan seksama, menyadari bahwa mereka bertiga memakai
nama dada, dan mencoba membaca nama yang tertulis pada kedua laki-laki
disampingnya.
Jonathan? Dan Jonash?
Entah sejak kapan Jen
menahan nafasnya, yang ia tahu adalah kamarnya mendadak berputar—atau
kepalanya?—dan Jen merasa nafasnya mulai sesak.
[Kau egois Nath! Jahat!]
Kini suara-suara asing
mulai memenuhi kepalanya, lirih lalu lama-lama semakin keras seolah suara-suara
itu nyata.
[Maaf Jen, aku hanya tak
ingin kau terluka.]
[Aku percaya padamu,
Nath! Beraninya kau membiarkan Jo!]
[Aku tak mau lagi
bertemu denganmu, Nath! Pergi!]
Kali ini tak hanya
suara, serangkaian memori seperti film rusak mulai menyeruak dalam ingatan Jen,
membuat kepalanya semakin sakit dan sekelilingnya berputar tak terkendali.
“Aaaarggghh!!” Jen
menjerit tertahan. Sekelebat-kelebat ingatan masih bermain dalam otaknya,
menjelma seperti hantu yang siap menerornya.
[Kalian bohong!
Pembohong!]
[Sadarlah, Jen! Kau
melihat Jo sendiri tadi! Jangan jadi keras kepala!]
[Diam kau, Nath! Aku tak
butuh kau! Aku butuh Jo!]
[Sayang, jangan seperti
ini. Ayo kita pulang.]
[Kalau kalian tidak mau,
aku akan pergi sendiri! Aku akan mencari Jo sendiri!]
[Lepaskan, Nath!]
Keringat dingin
menjalari tubuh Jen. Matanya nyalang penuh kesakitan, dan perlahan-lahan
semuanya tampak buram dimata Jen. Buram, kabur, lalu gelap.
><><><><><><><><><><><><><><><><
Entah bagaimana akhirnya
Jen bisa tertidur malam itu, tapi yang ia tahu adalah saat terbangun kepalanya
terasa sangat berat dan tenggorokannya kering bukan main. Dengan susah payah
Jen mencoba untuk duduk dan menggapai nakas untuk mengambil minum.
Dihabiskannya air putih dalam sekali teguk dan ia merasakan tenggorokannya
sudah lebih basah sekarang.
Setelah sepenuhnya sadar
dari tidurnya, Jen kembali memikirkan mimpinya semalam. Mimpi itu… entah kenapa
tidak seperti mimpi, malah ia merasa seperti sedang berada di mesin waktu.
Perlahan, satu per satu, keping demi keping, kenyataan dalam mimpi itu
menghantam dirinya sepenuhnya. Semuanya terlalu nyata baginya, terlalu…benar.
Jen masih mencoba
merangkai misteri yang ditinggalkan kepingan-kepingan mimpinya semalam, tetapi
ketika ibunya mengetuk pintunya dan mengatakan bahwa Jo menunggunya dibawah,
sebuah kesimpulan terpatri dalam pikiran Jen saat itu juga.
Setelah membersihkan
diri dan berganti pakaian, Jen segera menuju ruang tamu dimana Jo sudah
menunggunya dengan ponsel ditangan.
“Hei Nath! Maaf lama.”
Sapanya sebiasa mungkin.
“Hei Jen. Tak masalah,
aku—“ butuh waktu 3 detik sebelum Jo benar-benar bisa mencerna apa yang baru
saja diucapkan gadis dihadapannya.
Jen mengangkat alisnya,
masih mencoba bersikap seperti biasa walau diakuinya ia sedikit geli melihat
reaksi Jo. “Kenapa, Nath?”
Jo membelalakkan
matanya, kali ini benar-benar kaget. “Kau sudah…?”
“Ingat?” Jen dengan baik
hati melanjutkan kalimat Jo yang menggantung. “Ya, aku ingat. Tentu saja aku
ingat.” Kali ini Jen sama sekali tak berusaha menutupi nada tak sabar miliknya.
“Aku ingat semua tentang
kita. Aku ingat siapa kau. Aku ingat apa yang terjadi pada kita. Aku ingat
semuanya, Nath! Dan aku ingat Jo! The real Jo!” Jen tak bisa lagi untuk
tenang. Ia harus mengatakan ini. Harus!
“Jen—“
“Diam, Nath! Aku belum
selesai bicara!” Jen menatap nyalang pada Jo –atau Nath—yang hanya bisa bungkam
dan membiarkan Jen melanjutkan. “Kau, Jonathan saudara kembar Jonash, Jo-ku,
dan kau adalah orang yang paling kubenci sepanjang hidupku!”
“Jen, aku—“
“Kubilng diam, Nath!”
bentak Jen, kali ini matanya berkilat penuh amarah. “Kau tahu kondisi Jo saat
itu, dan kau diam saja. Demi tuhan kau saudara kembarnya, Nath! Kau bisa
menolongnya tapi kau bahkan tak berusaha sedikitpun untuk menolong Jo! Kau
benar-benar egois!”
“Aku berusaha, Jen!
Aku—“
“Nath!”
“Tidak, kau yang diam
Jen!” kali ini Nath tak mau tinggal diam. Ia tahu pada akhirya Jen akan ingat
semua dan ia sudah siap dengan amarah Jen yang bukan tanpa alasan. “Kali ini
kau harus mendengarkanku! Aku tahu apa yang aku lakukan saat itu memang salah,
Jen! Tapi percaya atau tidak, aku terpaksa! Aku terpaksa diam karena Jo yang
menyuruhku! Jo sendiri yang memohon padaku untuk tidak melakukan apa-apa! Demi
tuhan, Jen! Aku bersumpah aku rela menukar nyawaku sekalipun saat itu kalau Jo
tidak memohon seperti itu dihadapanku. Dia kembaranku, dan aku tahu bagaimana
rasanya berada diposisinya saat itu karena aku juga sama sakitnya dengan dia,
Jen! Kau tak pernah tahu kala itu bahwa aku juga merasakan sakit yang sama
dengan sakitnya. Kau yang egois, Jen! Karena yang ada dipikiranmu hanya Jo!
Pernahkah kau juga memikirkanku sama seperti kau memikirkan Jo?! Tidak! Dan itu
menyakitiku lebih dari apapun, kau tahu itu?”
Keterkejutan kembali
melanda Jen seketika itu juga. Butuh beberapa saat sebelum Jen bisa mencerna
sepenuhnya kata-kata Nath. Semua terlalu tiba-tiba baginya.
“Tapi kita bertiga
bersahabat.” Lirih Jen masih terlalu bingung.
“Ya. Dan kau mencintai
Jo, lalu kalian melupakanku tanpa peduli untuk bertanya bagaimana perasaanku
sebenarnya. Itulah yang terjadi, Jen.”
Kaki Jen lemas, ia
terduduk di sofa ruang tamunya dengan kepala penuh. Bagaimana mungkin ini bisa
terjadi? Kenapa?
“Maaf, Jen. Maaf karena
sudah tidak jujur padamu sejak awal. Maaf karena aku tidak pernah bisa menjadi
Jo. Maaf karena membuatmu membenciku. Maaf.” Nath masih berdiri ditempatnya,
matanya menatap Jen penuh penyesalan. “Tapi aku tak akan meminta maaf untuk
jatuh cinta padamu. Walaupun aku tahu selamanya aku hanyalah Nath, bukan Jo.”
Jen mendongak, menemukan
Nath tengah menatapnya. Begitu banyak yang ingin ia katakan. Begitu banyak
pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya mendesak untuk dikeluarkan. Tapi
lidahnya kelu. Ia tak mampu berucap. Menemukan kepedihan terpancar di mata
Nath, Jen merasa sangat bersalah. Hei! Bukankah harusnya ia yang merasa
tersakiti disini? Kenapa sekarang jadi terbalik?
“Tolong jangan salahkan
orangtua kita. Mereka hanya ingin melihatmu bahagia, Jen. Pernikahan ini, aku
yang mengusulkan, karena aku berjanji pada Jo untuk selalu menjagamu. Tapi
sepertinya, aku harus melanggar janjiku sendiri. Kau tak perlu melanjutkan
pernikahan ini. Masalah orangtua kita, biar jadi urusanku. Sekali lagi, aku
minta maaf karena membuatmu semakin terluka.”
Nath melepaskan cincin
pertunangan yang melingkar di jari manisnya dan meletakkannya di meja tepat
didepan Jen. Jen mendongak, kali ini disambut oleh senyuman Nath. Senyum tulus,
meski menyiratkan beribu kesedihan.
“Selamat tinggal, Jen.”
Dan dengan itu, Nath berlalu. Membawa serta hatinya yang kini sepenuhnya hancur
berkeping-keping, tapi juga dengan kelegaan tiada tara. Setidaknya, ia tak
perlu lagi membohongi wanita yang paling ia cintai setelah ibunya.
Seentara Jen? Ia hanya
bisa menatap kepergian Nath dengan hati yang tercabik-cabik. Ia kehilangan Jo,
cinta dalam hidupnya, dan kini ia juga kehilangan Nath, sahabat baiknya,
satu-satunya tempatnya bersandar dalam segala kondisi. Pada akhirnya, Jen
ditinggalkan sendiri. Dan entah kenapa, ia berharap bahwa selamanya ia hilang
ingatan dan tak pernah mengingat semua kenangan itu. Karena terkadang, ada hal
yang memang lebih baik tak lagi diingat karena hanya akan memberi luka pada
semua orang.

Comments
Post a Comment