Skip to main content

Photograph

Jen menatap datar sepasang mata yang juga menatapnya dari seberang meja, hanya saja mata itu berbinar, penuh keceriaan. Mata yang menyembunyikan banyak emosi di saat bersamaan. Berbeda dengan milik Jen yang hanya memancarkan satu emosi saat ini. Bosan.
“Jadi?” Jen memecah keheningan yang memekakkan diantara mereka, tak tahan hanya diam dan melihat cengiran tak bersalah lawan bicaranya itu.
Disisi lain meja, seorang pemuda tampan mengedikkan bahunya sekilas, membuat Jen mengangkat alisnya dengan pertanyaan tertahan, ‘Kau bercanda?’
“Aku tidak dalam posisi untuk memutuskan, Jen. Kau juga tahu itu.” Ucap pemuda itu pada akhirnya, jemarinya bermain diatas linen merah meja mereka.
“Begitu juga aku. Kau lebih dari tahu bagaimana kondisiku saat ini, Jo.” Jen mencoba mengatur nada nya agar tetap terlihat tenang.
Jo mendesah pelan. Ia tahu tak akan mudah membujuk Jen dalam kondisi seperti ini. Ia sudah kehabisan akal bagaimana lagi ia harus membuat Jen sepakat.
“Tak ada yang bisa kita lakukan lagi, Jen. Semua sudah diatur oleh orangtua kita. Sebentar lagi undangan akan disebar. Mau tak mau, kita harus sepakat dalam hal ini.” Senyuman Jo kali ini berbeda dengan yang ia lemparkan sebelumnya. Sudut bibirnya hanya terangkat sedikit, dan ia tampak bersalah.
Jen frustasi. “Tapi aku tak bisa, Jo! God! Aku bahkan baru mengenalmu kurang dari satu bulan!” gadis itu tak lagi bisa mengontrol nada bicaranya. Beruntung mereka duduk agak jauh dari pengunjung lainnya.
“Kita sudah saling mengenal selama bertahun-tahun, Jen.” Koreksi Jo, terdengar getir dalam suaranya.
“Dan tak ada SATU pun kenangan bertahun-tahun itu yang bisa aku ingat saat ini. Yang aku tahu saat ini adalah bahwa kita tak lebih dari orang asing yang baru mengenal kurag dari satu bulan, dan jelas sekali aku tak mau menikah dengan orang yang bahkan nama lengkapnya pun aku tak tahu!” wajah Jen memerah setelah ia meluapkan segalanya.
Jo merasa seolah ada batu besar yang menghantam perutnya ketida mendengar ungkapan hati Jen. Ia sebenarnya sudah bisa menebaknya dari awal, tapi rasanya tetap saja menyakitkan ketika kenyataan dilontarkan dengan brutal tepat diwajahnya.
“Kau hanya butuh waktu, Jen. Pada waktunya nanti, kau pasti akan mengingat semuanya kembali.” Ucap Jo pelan, kini matanya menatap Jen sendu.
“Aku ingat semuanya, Jo. Aku ingat orangtuaku, aku ingan Sam, Mel, Rin, semuanya aku ingat! Dan haruskah kuingatkan kau sekali lagi Jo, kalau setelah kejadian itu hanya satu yang tak kuingat. aku—“
“Hentikan, Jen.” Potong Jo sebelum Jen bisa menyelesaikan kalimatnya. “Aku tahu.” Jo kembali memaksakan sebuah senyuman yang membuat Jen kini merasa sangat bersalah.
“Maaf.” Jen mencoba meraih tangan Jo yang masih berada diatas meja, tapi sebelum ia sempat menyentuhnya, pemuda itu sudah berdiri terlebih dahulu.
“Sebaiknya kita pulang sekarang. Sudah semakin larut, aku tak mau orangtuamu khawatir.” Jo memasukkan tangannya kedalam saku jaketnya dan tersenyum pada Jen, mengajaknya segera keluar dari kafe tempat mereka menghabiskan makan malam yang canggung itu.
Jen mengangguk sebelum mengikuti Jo berjalan menuju pintu keluar.
><><><><><><><><><><><><><><><><><
Entah sudah berapa lama Jen memandangi layar ponselnya sekarang, matanya terfokus hanya pada satu objek ditangannya itu. Berkali-kali pula ia mendesah, mengutuk dalam hati apa yang salah dengan dirinya? Jen berada dikamarnya saat ini, merebahkan tubuh lelahnya diatas ranjang queen size miliknya. Sepulang dari makan malam bersama Jo, Jen langsung mengunci diri didalam kamar. Sebagian karena ia ingin menghindari ibunya yang selalu bertanya banyak hal tiap kali ia selesai bertemu dengan Jo, dan sebagian lagi karena ia benar-benar ingin sendiri saat ini.
Jen masih menatap layar ponselnya yang memperlihatkan foto mesranya dengan Jo. Sekali lagi, foto mesra nya dengan Jo! Ya, benar! Jen sama sekali tak paham, bagaimana bisa mereka yang ada di foto itu sama sekali berbeda dengan mereka yang sekarang. Mereka berdua tampak bahagia di foto itu, dengan satu tangan Jen melingkar mesra dileher Jo dan tangan Jo yang memeluk pinggang ramping Jen dengan posesif. Senyum lebar terpatri di wajah dua sejoli itu.
Bagaimana bisa itu mereka? Jen dan…Jo? That Jo? Kenapa rasanya ada sesuatu yang tak cocok disini? Kenapa Jen merasa Jo bukanlah Jo?
Jen kembali berguling kesamping, entah sudah berapa kali ia berganti posisi dalam baringnya. Ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan ketika ia melihat foto di ponselnya itu dengan ketika ia bertatap muka dengan Jo yang sesungguhnya. Hatinya menghangat pada gambar tak bergerak itu, tapi sebaliknya, entah kenapa ia merasakan ada emosi tersembunyi tiap kali ia bertemu nyata dengan Jo.
Ada banyak hal yang mengganggu pikiran Jen sejak ia sadar dari komanya satu bulan yang lalu. Ada kejanggalan yang ia rasakan sejak saat itu juga. Sikap orangtuanya yang kelewat protektif padanya, juga orangtua Jo yang sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya. Tak ada yang lebih membuat Jen terkejut kala itu selain mendapati kenyataan bahwa ia mempunyai seorang tunangan yang sama sekali tak diingatnya, dan lebih mengejutkan lagi bahwa tak lama lagi mereka akan menikah!
Tentu saja Jen berontak waktu itu. Bagaimana mungkin ia akan menikah dengan orang yang namanya pun terdengar asing di telinganya! Namun kemudian dokter datang dan menjelaskan bahwa Jen mengalami gegar otak parsial yang mengakibatkannya kehilangan sebagian ingatan. Dan anehnya, ingatan yang dimaksud oleh dokter itu entah bagaimana berhubungan dengan Jo dan semua hal yang tersisa tentang hubungan mereka selama ini. Jo mengklaim bahwa mereka sudah bersama sejak dua tahun yang lalu, walaupun mereka sebenarnya sudah bersahabat sejak kecil, dan pernyataan Jo itu mendapat dukungan dari semua pihak yang ada disekitar Jen.
Menguap lebar, Jen akhirnya menyerah menebak-nebak apa yang membuat Jo di foto ini berbeda dengan Jo yang dikenalnya. Jen mematikan ponselnya dan segera bersiap menuju ke alam mimpi.
><><><><><><><><><><><><
Jo mengecek arlojinya untuk kedua kalinya selama ia duduk di ruang tamu Jen, memastikan bahwa mereka masih punya cukup waktu untuk berkeliling toko perhiasan sebelum kembali lagi kesini untuk makan malam keluarga. Sedikit menggerutu, Jo menyandarkan punggungnya pada bantalan sofa yang ia tempati. 30 menit! Jo kadang tak habis pikir apa sebenarnya yang membuat kaum wanita selalu menghabiskan 4 kali lipat dari waktu yang ia perlukan untuk sekadar berdandan.
Bosan, Jo mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya berniat untuk bermain game sebentar, tapi gerakannya terhenti setelah ia membuka kunci ponsel miliknya. Di layar, terpampang foto yang sama dengan yang ada di ponsel Jen. Foto dirinya dan Jen. Lautan rasa bersalah kembali menggerogoti diri Jo. Mereka berarti segalanya bagi Jo.
“Maaf.” Ucapnya lirih sambil mengusap gambar tak bergerak itu.
Terlalu larut dalam renungannya, Jo tak menyadari bahwa Jen sudah berdiri dihadapannya dan tengah mengernyit heran karena ia tak menyahut panggilannya.
“Jo!” Jen sedikit mengeraskan suaranya, dan berhasil membawa kembali Jo dari entah apa yang sedang dilamunkannya.
“Hei. Maaf ngelamun.” Jo tergesa menutup kembali ponselnya dan menyimpannya ditempat semula, saku celananya.
Jen mengedik acuh, “Ayo kita berangkat.” Gadis itu mendahului Jo menuju mobil Jo yang diparkir diluar rumahnya.
Seperti biasa, perjalanan mereka didominasi dengan Jo yang berceloteh panjang lebar tentang masa-masa mereka dulu. Tempat mana saja yang sering mereka kunjungi, apa saja yang sering mereka lakukan, semua yang sama sekali tak bisa diingat oleh Jen.
“Lalu setelah itu kau pasti akan merengek padaku meminta dibelikan apa saja yang sama dengan yang ada di setiap film yang kita tonton bersama.”
“Benarkah? Separah itu?” Jen menaikkan alisnya skeptis. Aneh rasanya mendengar sisi dirinya yang ia lupakan sendiri,
“Kau pikir aku hanya mengarang cerita? Setelah ini, pastikan kau periksa kembali isi lemarimu dan buka peti harta karunmu. Kau menyimpan semuanya disana.” Jo menyeringai, membuat Jen kembali menggerutu sebal.
Perjalanan pun kembali diisi dengan celoteh riang Jo dan gerutuan sebal Jen disana-sini sampai mereka tiba di tempat tujuan.
“Kita kan sudah punya cincin, untuk apa sih kita harus beli lagi?” kembali Jen menggerutu sambil melepas seatbelt nya.
“Cincin tunangan beda dengan cincin kawin, Jen. Kau kan wanita, bukankah harusnya kau yang lebih antusias masalah ini?” ledek Jo sebelum keluar dari mobil.
“Bagiku mereka sama saja. Toh sama-sama cincin namanya.” Balas Jen ketika mereka berjalan beriringan memasuki pusat perbelanjaan yang ramai.
Entah kenapa Jo tidak merasa terkejut dengan ucapan Jen, sebaliknya, ia merasa bahwa Jennya sudah kembali. Tersenyum lebar, Jo meraih satu tangan Jen dan menggandengnya tanpa menghiraukan ekspresi muka Jen yang jelas-jelas merasa keberatan.
><><><><><><><><><><><><><
Mereka kembali tepat waktu untuk makan malam. Orangtua masing-masing sudah berkumpul di ruang keluarga, dan setelah menunggu Jen meletakkan semua belanjaannya di kamar, mereka pun berpindah ke ruang makan untuk memulai makan malam yang sebenarnya adalah ajang orangtua untuk membicarakan rencana pernikahan anak-anak mereka.
Jen lebih banyak diam sepanjang makan malam, membuka suara hanya ketika ditanya dan menyahut obrolan seperlunya. Jo yang lebih banyak bersuara, bercerita tentang perkembangan hubungan mereka sesuai permintaan para orangtua, dan sesekali menimpali percakapan seputar pernikahan.
Jo melirik kearah Jen setiap kali ada kesempatan, dan tahu kalau Jen merasa sangat tak nyaman saat ini. Semua makanan sudah dihidangkan, tetapi obrolan nampaknya tak akan berhenti hanya karena mereka sudah selesai makan. Merasa harus menghentikan para orangtua sebelum Jen semakin tak nyaman, Jo berdeham cukup keras untuk didengar semua penghuni meja makan itu.
“Maaf, om dan tante, saya rasa kurang sopan sekali jika kami masih duduk disini setelah menikmati makan malam yang luar biasa ini. Terlebih, tampaknya Jen juga sudah kelelahan seharian bersama saya berkeliling mencari cincin pernikahan kami. Jadi, alangkah baiknya jika saya mohon pamit agar Jen bisa beristirahat. Bukan begitu, Ma, Pa?” ucap Jo sesopan mungkin.
“Oh, astaga! Kau benar, saying. Aduh, selalu saja lupa waktu kalau sudah membicarakan pernikahan kalian.” Ibu Jo membenarkan.
Setelah keluarga Jo berpamitan pulang, Jen berkata pada orangtuanya bahwa ia sangat lelah dan ingin segera pergi tidur. Orangtuanya mengucapkan selamat malam padanya dan Jen segera kembali ke kamarnya.
Jen melenguh pelan ketika tubuhnya bertemu dengan permukaan lembut ranjangnya. Ia bahkan tak menyadari betapa lelahnya ia hari ini sampai tubuhnya bersentuhan dengan ranjang. Jen sudah akan menyelam ke lautan mimpi ketika sesuatu tiba-tiba menyeruak dari dalam kepalanya. Ia teringat ucapan Jo di mobil tadi, dan ia memaksa tubuh lelahnya untuk berdiri dan menyeretnya menuju lemari miliknya.
Menggeser pintu lemarinya cukup lebar, Jen seketika dapat mengenali kotak besar yang tergeletak di dasar lemari. Jen mengangkat kotak itu –yang ternyata cukup berat—dan membawanya keatas ranjang. Dibukanya penutup kotak merah itu, dan seketika senyum mengembang dibibir manisnya.
Jen mengeluarkan sebatang tongkat yang ia kenali pasti adalah tongkat sihir dari film Harry Potter, lalu ada replika sepatu kaca Cinderella, juga boneka Spiderman dan beberapa figurine superhero Marvell, dan banyak benda-benda lain yang Jen sangat hapal berasal dari film apa saja. Tanpa sadar Jen terkekeh kecil.
“Jadi Jo berkata jujur?” celetuknya geli. Bukannya Jen menganggap Jo berbohong padanya, hanya saja Jen belum bisa sepenuhnya percaya pada Jo. Ada sesuatu dalam diri Jo yang membuat Jen merasa bahwa pemuda itu menyembunyikan banyak hal dari dirinya.
Jen kemudian meraih sebuah kotak kecil yang ada didasar kotak, dan saat ia membukanya ia tak bisa menahan tawanya.
“Yang benar saja! Tiket bioskop!” Jen tak pernah menyangka bahwa dia punya kebiasaan seperti ini dulu. Ia meraih tiket yang berada paling atas, dan seketika mengernyit heran ketika mendapati bahwa ada 3 tiket untuk satu film yang sama.
Kenapa ada 3? Tanyanya dalam hati. Penasaran, ia mengambil isi box satu persatu dan menyadari bahwa selalu ada 3 tiket untuk setiap film yang sama. Keheranan, Jen hampir melewatkan benda lain di dalam kotak penuh tiket bioskop itu. Selembar foto.
Jen mengambil foto itu perlahan dan matanya membulat seketika ketika menyadari siapa yang ada dalam foto tersebut. Seorang gadis, memakai seragam putih-abu-abu, dengan kedua tangan merangkul dua laki-laki yang mengapitnya. Ketiganya tertawa lebar kearah kamera. Gadis itu, tak lain adalah Jen semasa SMA. Dan laki-laki yang ada dalam foto bersamanya, dua-duanya, adalah Jo.
Jo! Dua Jo, berdiri dikanan-kiri Jen. Dengan tawa yang sama, wajah yang sama, Jo yang sama!
“Bagaimana—bagaimana bisa?” bisik Jen lemas dengan mata yang masih terfokus pada potret ditangannya. Gemetar, ia membalikkan lembaran foto itu dan menemukan sebuah tulisan kecil di sebelah kanan bawah. Triple J, together, forever.
Masih dengan tangan gemetar, Jen kembali membalikkan foto tersebut, tiga wajah remaja kembali menatap balik padanya.
“J—Jo…?” Jen kembali memperhatikan foto itu dengan seksama, menyadari bahwa mereka bertiga memakai nama dada, dan mencoba membaca nama yang tertulis pada kedua laki-laki disampingnya.
Jonathan? Dan Jonash?
Entah sejak kapan Jen menahan nafasnya, yang ia tahu adalah kamarnya mendadak berputar—atau kepalanya?—dan Jen merasa nafasnya mulai sesak.
[Kau egois Nath! Jahat!]
Kini suara-suara asing mulai memenuhi kepalanya, lirih lalu lama-lama semakin keras seolah suara-suara itu nyata.
[Maaf Jen, aku hanya tak ingin kau terluka.]
[Aku percaya padamu, Nath! Beraninya kau membiarkan Jo!]
[Aku tak mau lagi bertemu denganmu, Nath! Pergi!]
Kali ini tak hanya suara, serangkaian memori seperti film rusak mulai menyeruak dalam ingatan Jen, membuat kepalanya semakin sakit dan sekelilingnya berputar tak terkendali.
“Aaaarggghh!!” Jen menjerit tertahan. Sekelebat-kelebat ingatan masih bermain dalam otaknya, menjelma seperti hantu yang siap menerornya.
[Kalian bohong! Pembohong!]
[Sadarlah, Jen! Kau melihat Jo sendiri tadi! Jangan jadi keras kepala!]
[Diam kau, Nath! Aku tak butuh kau! Aku butuh Jo!]
[Sayang, jangan seperti ini. Ayo kita pulang.]
[Kalau kalian tidak mau, aku akan pergi sendiri! Aku akan mencari Jo sendiri!]
[Lepaskan, Nath!]
Keringat dingin menjalari tubuh Jen. Matanya nyalang penuh kesakitan, dan perlahan-lahan semuanya tampak buram dimata Jen. Buram, kabur, lalu gelap.
><><><><><><><><><><><><><><><><
Entah bagaimana akhirnya Jen bisa tertidur malam itu, tapi yang ia tahu adalah saat terbangun kepalanya terasa sangat berat dan tenggorokannya kering bukan main. Dengan susah payah Jen mencoba untuk duduk dan menggapai nakas untuk mengambil minum. Dihabiskannya air putih dalam sekali teguk dan ia merasakan tenggorokannya sudah lebih basah sekarang.
Setelah sepenuhnya sadar dari tidurnya, Jen kembali memikirkan mimpinya semalam. Mimpi itu… entah kenapa tidak seperti mimpi, malah ia merasa seperti sedang berada di mesin waktu. Perlahan, satu per satu, keping demi keping, kenyataan dalam mimpi itu menghantam dirinya sepenuhnya. Semuanya terlalu nyata baginya, terlalu…benar.
Jen masih mencoba merangkai misteri yang ditinggalkan kepingan-kepingan mimpinya semalam, tetapi ketika ibunya mengetuk pintunya dan mengatakan bahwa Jo menunggunya dibawah, sebuah kesimpulan terpatri dalam pikiran Jen saat itu juga.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Jen segera menuju ruang tamu dimana Jo sudah menunggunya dengan ponsel ditangan.
“Hei Nath! Maaf lama.” Sapanya sebiasa mungkin.
“Hei Jen. Tak masalah, aku—“ butuh waktu 3 detik sebelum Jo benar-benar bisa mencerna apa yang baru saja diucapkan gadis dihadapannya.
Jen mengangkat alisnya, masih mencoba bersikap seperti biasa walau diakuinya ia sedikit geli melihat reaksi Jo. “Kenapa, Nath?”
Jo membelalakkan matanya, kali ini benar-benar kaget. “Kau sudah…?”
“Ingat?” Jen dengan baik hati melanjutkan kalimat Jo yang menggantung. “Ya, aku ingat. Tentu saja aku ingat.” Kali ini Jen sama sekali tak berusaha menutupi nada tak sabar miliknya.
“Aku ingat semua tentang kita. Aku ingat siapa kau. Aku ingat apa yang terjadi pada kita. Aku ingat semuanya, Nath! Dan aku ingat Jo! The real Jo!” Jen tak bisa lagi untuk tenang. Ia harus mengatakan ini. Harus!
“Jen—“
“Diam, Nath! Aku belum selesai bicara!” Jen menatap nyalang pada Jo –atau Nath—yang hanya bisa bungkam dan membiarkan Jen melanjutkan. “Kau, Jonathan saudara kembar Jonash, Jo-ku, dan kau adalah orang yang paling kubenci sepanjang hidupku!”
“Jen, aku—“
“Kubilng diam, Nath!” bentak Jen, kali ini matanya berkilat penuh amarah. “Kau tahu kondisi Jo saat itu, dan kau diam saja. Demi tuhan kau saudara kembarnya, Nath! Kau bisa menolongnya tapi kau bahkan tak berusaha sedikitpun untuk menolong Jo! Kau benar-benar egois!”
“Aku berusaha, Jen! Aku—“
“Nath!”
“Tidak, kau yang diam Jen!” kali ini Nath tak mau tinggal diam. Ia tahu pada akhirya Jen akan ingat semua dan ia sudah siap dengan amarah Jen yang bukan tanpa alasan. “Kali ini kau harus mendengarkanku! Aku tahu apa yang aku lakukan saat itu memang salah, Jen! Tapi percaya atau tidak, aku terpaksa! Aku terpaksa diam karena Jo yang menyuruhku! Jo sendiri yang memohon padaku untuk tidak melakukan apa-apa! Demi tuhan, Jen! Aku bersumpah aku rela menukar nyawaku sekalipun saat itu kalau Jo tidak memohon seperti itu dihadapanku. Dia kembaranku, dan aku tahu bagaimana rasanya berada diposisinya saat itu karena aku juga sama sakitnya dengan dia, Jen! Kau tak pernah tahu kala itu bahwa aku juga merasakan sakit yang sama dengan sakitnya. Kau yang egois, Jen! Karena yang ada dipikiranmu hanya Jo! Pernahkah kau juga memikirkanku sama seperti kau memikirkan Jo?! Tidak! Dan itu menyakitiku lebih dari apapun, kau tahu itu?”
Keterkejutan kembali melanda Jen seketika itu juga. Butuh beberapa saat sebelum Jen bisa mencerna sepenuhnya kata-kata Nath. Semua terlalu tiba-tiba baginya.
“Tapi kita bertiga bersahabat.” Lirih Jen masih terlalu bingung.
“Ya. Dan kau mencintai Jo, lalu kalian melupakanku tanpa peduli untuk bertanya bagaimana perasaanku sebenarnya. Itulah yang terjadi, Jen.”
Kaki Jen lemas, ia terduduk di sofa ruang tamunya dengan kepala penuh. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Kenapa?
“Maaf, Jen. Maaf karena sudah tidak jujur padamu sejak awal. Maaf karena aku tidak pernah bisa menjadi Jo. Maaf karena membuatmu membenciku. Maaf.” Nath masih berdiri ditempatnya, matanya menatap Jen penuh penyesalan. “Tapi aku tak akan meminta maaf untuk jatuh cinta padamu. Walaupun aku tahu selamanya aku hanyalah Nath, bukan Jo.”
Jen mendongak, menemukan Nath tengah menatapnya. Begitu banyak yang ingin ia katakan. Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya mendesak untuk dikeluarkan. Tapi lidahnya kelu. Ia tak mampu berucap. Menemukan kepedihan terpancar di mata Nath, Jen merasa sangat bersalah. Hei! Bukankah harusnya ia yang merasa tersakiti disini? Kenapa sekarang jadi terbalik?
“Tolong jangan salahkan orangtua kita. Mereka hanya ingin melihatmu bahagia, Jen. Pernikahan ini, aku yang mengusulkan, karena aku berjanji pada Jo untuk selalu menjagamu. Tapi sepertinya, aku harus melanggar janjiku sendiri. Kau tak perlu melanjutkan pernikahan ini. Masalah orangtua kita, biar jadi urusanku. Sekali lagi, aku minta maaf karena membuatmu semakin terluka.”
Nath melepaskan cincin pertunangan yang melingkar di jari manisnya dan meletakkannya di meja tepat didepan Jen. Jen mendongak, kali ini disambut oleh senyuman Nath. Senyum tulus, meski menyiratkan beribu kesedihan.
“Selamat tinggal, Jen.” Dan dengan itu, Nath berlalu. Membawa serta hatinya yang kini sepenuhnya hancur berkeping-keping, tapi juga dengan kelegaan tiada tara. Setidaknya, ia tak perlu lagi membohongi wanita yang paling ia cintai setelah ibunya.
Seentara Jen? Ia hanya bisa menatap kepergian Nath dengan hati yang tercabik-cabik. Ia kehilangan Jo, cinta dalam hidupnya, dan kini ia juga kehilangan Nath, sahabat baiknya, satu-satunya tempatnya bersandar dalam segala kondisi. Pada akhirnya, Jen ditinggalkan sendiri. Dan entah kenapa, ia berharap bahwa selamanya ia hilang ingatan dan tak pernah mengingat semua kenangan itu. Karena terkadang, ada hal yang memang lebih baik tak lagi diingat karena hanya akan memberi luka pada semua orang.


Comments

Popular posts from this blog

Youth is not coming back

Life is a funny thing, you know? You rise, you fall. One time you can be so happy over small thing, then other time you can be so desperately sad about something else. One time you can be so high, other time you can be so damn low. You face many things in life. Failure is no exception. You try, you fail. You succeed, yet you don’t know how long will it last. At least, you’ve done your best. You give it all. Who knows what will happen in the future? You might think you’ve done your best, but sometime it isn’t enough. Sometimes, what we think the best for us is not actually the best. God knows better. We plan, we fail. We plan, God decides. Trust God, and you’ll get everything you need. I know sometimes what we want is not actually what we need. And who knows better about us if not the one who create us? We might hate something, but actually it is good for us. Or else, we might like something, but actually it’s bad for us.  We never know. Sometimes, our choice can be a boomera...

UNCOMMITTED

It was all a dream  Reality was far from the safe picture  She painted for me  She told me I was the one and I believed  Until the dream dissipated so suddenly Ketika sesuatu yang seharusnya mudah, menjadi sulit hanya karena ego yang berlebih. San tak pernah berpikir bahwa semua kebahagian yang ia perjuangkan bertahun-tahun akan berakhir menyedihkan. Ia pikir, dengan memberikan segala yang ia miliki, akan cukup untuk membuat cinta bertahan dengannya. Kenyataannya, Mareta pergi. Membawa serta separuh jiwanya. Hatinya. San tak pernah dapat memahami apa yang salah dengan hubungan mereka. Bukankah selama ini mereka baik-baik saja? Bukankah semuanya berjalan dengan lancar? Bukankah mereka berjanji untuk saling memiliki? Bahkan, gadis itu pernah menatapnya mantap dan berkata bahwa dialah satu-satunya. Lantas apa? Apa yang membuat San kehilangan satu-satunya cinta dalam hidupnya? I don't know why she was so compelled to leave  Something was messin' with her p...

A Warm Autumn Breeze

i make another short story guys...^^ a lil bit longer from the previous one, btw...:D -------------------------------------------------- It was autumn. When the leaves fall and the sun warm. Not as cold as winter nor as hot as summer, just warm. Yet, not as beautiful as spring. It was autumn. The season when this story begin. Ana is sitting in the bench, in the park she used to come every time she needs a time for herself. A red headphone perched in her head as she looked at the crowded of children in front of her. She smiled at those beautiful scenery. Some old memories running out in her head. She takes a deep sigh before close her eyes, enjoying the song played in her ipod. Again, those old memories come, this time more clearly and seems so real. She was there. Running around with the other child in her age. She was smiling. A wide smile that never faded from her cute face. Behind her, is a cute guy seems around 8 years old, just one year older than her. He can’t  st...