Skip to main content

Beautiful

I was young, I didn't know I'd be like this
I thought it was a given back then
The smile you left behind
Still remains in my heart



Sebuah senyuman terpatri di bibir Dan seraya ia menerawang jauh kedepan. Gelas wine masih setia digenggamnya. Hampir setengah botol Sauvignon Blanc habis diteguknya. Tidak. Dan bukan tipikal lelaki yang mudah mabuk hanya karena minum anggur putih. Kadar toleransi alkoholnya cukup tinggi. Tapi hal itu tak serta merta membuatnya sering menyentuh minuman beralkohol itu. Hanya sekali dua kali. Bahkan 4 tahun belakangan ini ia sama sekali tak pernah minum alkohol dalam bentuk apapun. 

Hanya saja, hari ini berbeda. Hari ini istimewa. Hari ini sangat berarti, tapi Dan ingin melupakan hari ini. Sebuah kontras memang. Tapi, tak ada yang lebih diinginkan Dan selain melupakan hari ini untuk selama-lamanya.

Hari ini, hari dimana orang tersayang Dan lahir kedunia 29 tahun yang lalu, tapi juga hari dimana orang yang sama pergi meninggalkannya selama-lamanya tepat satu tahun yang lalu. Salah Dan. Semuanya salahnya. Kalau saja dulu dia mampu meredam egonya dan sedikit mengalah, ia tak akan kehilangan Del. Kalau saja ia bisa lebih dewasa, mungkin Del masih disini memberinya senyum. Senyuman yang selalu ia sukai. Senyum yang masih dan akan selalu terpatri diingatannya.




Honestly, I think I still need to receive love
The longer I'm left alone
The more afraid I get
I miss those days, I miss you so much, yeah





Jika ada satu hal yang Dan takutkan, adalah hari dimana ingatan tentang Del perlahan memudar, lalu hilang.
Tidak. Dan tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Sejak satu tahun yang lalu, tak pernah sedetikpun Del hilang dari ingatannya. Del disana. Selalu disana.

Senyumnya.
Tawanya.
Sentuhannya.

Semua masih Dan ingat dan akan selalu begitu sampai kapanpun itu. Dan bersumpah. 

Hanya, hari ini saja. Untuk hari ini saja, Dan benar-benar ingin melupa. Melupa akan apa yang terjadi di hari yang sama tahun lalu. Melupa akan fakta bahwa raga Del tak bisa lagi ia sentuh sejak hari itu di tahun lalu. Melupa bahwa dirinyalah yang membuat wanita kesayangannya pergi meninggalkannya sendiri untuk selama-lamanya.

Dan merindukannya.
Merindukan cinta dalam hidupnya.
Merindukan Del-nya.



I miss you so much
Now I finally feel our space
I miss you so much
Tears are falling like this
But why didn't I know?





"Aku rindu, Del. I miss you so much, love"
Dan berucap lirih pada kehampaan disekelilingnya. Pada bayangan Del yang tersenyum padanya dari keheningan malam.

Kosong.
Hampa.

Hal yang sama yang dirasakan Dan tepat satu tahun yang lalu. Saat itu, Dan benar-benar merasa jiwanya direnggut paksa dari tubuhnya. Sumpah demi apapun. Dan rela menukar apapun yang ada didunia ini, bahkan dirinya sendiri, hanya agar Del bisa kembali padanya kala itu. Kembali membuka matanya. Kembali tersenyum padanya.

Dan terhanyut pada memori yang begitu ingin ia lupakan seumur hidupnya itu hingga tak menyadari pipinya telah basah akan airmata.  Kali ini bahkan botol Sauvignon Blanc didepannya sudah hampir kosong. Tapi Dan sama sekali tak berniat beranjak dari tempatnya. Biar. Biar saja. Biar begini. Biar disini. Di balkon ini. Tempat kesukaan Del ketika sedang ingin mencari ketenangan bersama bintang-bintang yang bertabur diatas sana.





So beautiful beautiful
You're more beautiful than anyone else
So don't be sick, don't cry
If you can hear this song for you
Come back to me



Dan menengadahkan kepalanya menatap bintang-bintang yang berpendar di langit malam. Dulu, Del pernah bilang kalau bintang itu adalah manifestasi orang-orang yang telah pergi meninggalkan dunia. Mereka akan sesekali berkelip diatas sana ketika orang yang ditinggalkan di dunia merindukan mereka. Dan tersenyum kecil. Del dan semua imajinasinya. Betapa ia sangat merindukan itu. Tentu saja kala itu Dan hanya mengiyakan ucapan Del walaupun ia tahu betapa konyolnya ucapan Del. Dan adalah orang yang selalu berfikir secara ilmiah, sementara Del lebih mengutamakan imajinasinya. Sebuah kontras yang menjadikan hubungan mereka tak pernah membosankan.

Saat mengabsen bintang yang tak begitu banyak di langit malam ini, Dan tertegun ketika melihat salah satunya berkelip pelan. Seolah ingin menarik perhatiannya. Senyumnya merekah. Bayangan Del tercipta diantara bintang-bintang diatas sana, dengan senyumnya yang biasa.

"Cantik." Gumamnya mengagumi Del dalam bayangannya.

Kali ini Dan berdiri, menumpukan tangannya pada selasar beranda yang mulai dingin diterpa angin malam. Kepalanya masih setia menengadah, mengagumi paras Del yang hanya ia sendiri yang bisa melihat.  Merutuki dirinya sendiri yang jarang sekali memuji wanitanya ketika ia masih bisa ditatapnya nyata.

Sekelebat ingatan mengusik Dan, dimana ia melihat Del menangis. Senyum Dan pudar. Wajahnya memancarkan penyesalan yang mendalam.

"Maafin aku, Del. Aku bodoh." ia merutuki dirinya sendiri sembari mengeratkan pegangannya pada selasar beranda.
"Kembali, Del. Tolong. Kembali kesini sama aku. I miss you." Dan bahkan tak menyadari bahwa suaranya kini sedikit bergetar. Pertahanannya perlahan runtuh.






Memories are like a big garage like the ocean
I am lost in them all day
Even this loneliness that I’m feeling
Are traces of you
So I force my eyes shut and am enduring through this day







Dan ambruk ke lantai. Badannya tak kuat menopang berat badannya lagi. Ia menangis sesenggukan. Benar-benar runtuh. Telapak tangannya ia gunakan untuk menutup wajahnya dan meredam suara tangisnya. Ia memejamkan matanya. Membiarkan semua memori yang berusaha ia lupakan itu kembali merangsek ke permukaan.


Mengapa ingatan begitu kejam? Menghujam perasaan Dan bertubi-tubi hingga ia tersesat didalamnya. Seharian ini Dan merasakan kesendirian yang lebih memekakkan dari hari-hari biasa. Ketiadaan Del kian terasa hari ini. Segala hal kecil yang Dan temui hari ini mengingatkannya pada Del. Semuanya tentang Del. Dan pikir dengan memejamkan matanya ia bisa sedikit meredam semua memori itu. Tapi kenyataan tak pernah sesuai yang ia harapkan. Semakin ia menutup mata. semakin memori itu dengan leluasa kembali dihadapannya.










I’m drawing out the familiar times with my hands
Crying in the same place like a broken clock
The dazzling you, the angelic you
The beautiful you, I wanna hold you
I wanna see you again








Dan kembali membuka matanya ketika tangisnya telah mereda. Matanya sembab, dan jejak-jejak air mata masih nampak jelas di wajahnya. Dan tak peduli. Tak akan ada yang melihatnya seperti ini. Penthouse miliknya terletak di lantai teratas gedung apartemen ini, jadi ia tak perlu khawatir ada tetangga yang memergokinya dengan kondisi mengenaskan seperti ini. Pun kalau ada yang memergokinya, ia tak peduli. Sungguh Dan tak peduli lagi.


Saat ini, hanya satu hal yang ia inginkan. Bertemu kembali dengan Del. Dengan cinta dalam hidupnya. Dengan bidadarinya. Dengan wanita tercantik yang pernah hadir dalam hidupnya.


Dan kembali termenung. Matanya kosong. Menatap lantai yang masih ia duduki. Hari semakin larut, membuat permukaan lantai balkon semakin dingin. Tapi Dan sama sekali tak merasakan apapun. Baginya, semuanya terasa kebas semenjak kepergian Del. Baginya, indra perasanya tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Baginya, semua terlihat monoton. Tak ada yang menarik.








Oh I miss you, I miss you (I miss you)
Your last words as you got far away (I miss you)
It’s strange, I’m afraid, I need you
I hate myself for realizing this now






"Kayaknya, bahkan kalau aku pergi selama-lamanya pun kamu nggak akan peduli, Dan."


Seperti sebuah kaset yang usang, Dan kembali mendengar ucapan yang sama. Satu kalimat yang berulang-ulang terputar di kepalanya. Hal yang terakhir ia dengar keluar dari bibir indah wanita tersayangnya. Sebelum kecelakaan naas itu benar-benar merenggut Del dari sisinya untuk selama-lamanya.


"Kamu salah, Del. Kamu salah." lirih Dan sembari menyandarkan kepalanya pada selasar dibelakangnya. Kepalanya kembali menengadah. Mencari-cari bintang yang tadi berkelip manja padanya.

"Aku peduli, Del. Aku selalu peduli." Dan kembali berucap pada bintang diatas sana, seolah mereka bisa mendengar lirih rintihannya.

"Aku butuh kamu, Del. Aku takut. Aku terlalu bergantung sama kamu." satu bulir air mata kembali lolos dari bendungannya. Mengiringi rintihan Dan yang terlalu menyayat hati.

Pada titik ini, Dan menyadari semuanya. Menyadari kesalahan terbesarnya. Keacuhannya yang berakibat fatal. Yang membuatnya harus menanggung perihnya ditinggal satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Karena bahkan orangtuanya saja tak pernah memberikan kasih sayang seperti yang ia dapatkan dari Del.

At the end of the day, you will realize that a person is precious only when you have lost her. 
Sepertinya, kalimat itu sangat tepat menggambarkan keadaan Dan saat ini. Kini, segalanya telah terlambat. Sia-sia. 







= Inspired by Beautiful - WannaOne =




Comments

Popular posts from this blog

Youth is not coming back

Life is a funny thing, you know? You rise, you fall. One time you can be so happy over small thing, then other time you can be so desperately sad about something else. One time you can be so high, other time you can be so damn low. You face many things in life. Failure is no exception. You try, you fail. You succeed, yet you don’t know how long will it last. At least, you’ve done your best. You give it all. Who knows what will happen in the future? You might think you’ve done your best, but sometime it isn’t enough. Sometimes, what we think the best for us is not actually the best. God knows better. We plan, we fail. We plan, God decides. Trust God, and you’ll get everything you need. I know sometimes what we want is not actually what we need. And who knows better about us if not the one who create us? We might hate something, but actually it is good for us. Or else, we might like something, but actually it’s bad for us.  We never know. Sometimes, our choice can be a boomera...

UNCOMMITTED

It was all a dream  Reality was far from the safe picture  She painted for me  She told me I was the one and I believed  Until the dream dissipated so suddenly Ketika sesuatu yang seharusnya mudah, menjadi sulit hanya karena ego yang berlebih. San tak pernah berpikir bahwa semua kebahagian yang ia perjuangkan bertahun-tahun akan berakhir menyedihkan. Ia pikir, dengan memberikan segala yang ia miliki, akan cukup untuk membuat cinta bertahan dengannya. Kenyataannya, Mareta pergi. Membawa serta separuh jiwanya. Hatinya. San tak pernah dapat memahami apa yang salah dengan hubungan mereka. Bukankah selama ini mereka baik-baik saja? Bukankah semuanya berjalan dengan lancar? Bukankah mereka berjanji untuk saling memiliki? Bahkan, gadis itu pernah menatapnya mantap dan berkata bahwa dialah satu-satunya. Lantas apa? Apa yang membuat San kehilangan satu-satunya cinta dalam hidupnya? I don't know why she was so compelled to leave  Something was messin' with her p...

A Warm Autumn Breeze

i make another short story guys...^^ a lil bit longer from the previous one, btw...:D -------------------------------------------------- It was autumn. When the leaves fall and the sun warm. Not as cold as winter nor as hot as summer, just warm. Yet, not as beautiful as spring. It was autumn. The season when this story begin. Ana is sitting in the bench, in the park she used to come every time she needs a time for herself. A red headphone perched in her head as she looked at the crowded of children in front of her. She smiled at those beautiful scenery. Some old memories running out in her head. She takes a deep sigh before close her eyes, enjoying the song played in her ipod. Again, those old memories come, this time more clearly and seems so real. She was there. Running around with the other child in her age. She was smiling. A wide smile that never faded from her cute face. Behind her, is a cute guy seems around 8 years old, just one year older than her. He can’t  st...